24 C
New York
25 August 2019
News

HAK SUARA Pemilu dan Pilkada Tidak Ada Bhiksu Gadungan, di Kubu Prabowo Sandi

 

 

Jakarta,hak suara, Opini publik khususnya di kalangan Umat Buddha Indonesia mendadak keruh karena adanya berita yang menyebutkan Munculnya Seorang Bhiksu yang disebut Gadungan oleh sejumlah pihak yang kontra dengan Prabowo Sandi.

Berbagai komentar yang dianggap semakin mendeskriditkan pribadi dan melebar pada kelembagaan organisasi agama Buddha semakin memperkeruh situasi menjelang penentuan pilihan dalam Pilpres 17 April besok.

Bhiksu yang disebut Gadungan itu terlihat berdiri bersama dengan Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi, yakni Jenderal TNI (purn) Djoko Santoso.

Kehadiran bhiksu tersebut dianggap sebuah upaya pencitraan agar Prabowo Sandi dianggap toleran, menurut tulisan berita yang termuat pada media online tertentu.

Sunardjo Sumargono, selaku Ketua Harian sekaligus Juru Bicara Lembaga Sangha Mahayana Indonesia menyatakan bahwa Bhiksu yang disebut sebut gadungan itu , sebenarnya adalah Sekretaris Jenderal Lembaga Sangha Mahayana Indonesia, yang ikut hadir berkontribusi secara politik mendukung Prabowo Sandi dalam agenda Kampanye Akbar di GBK.

Lebih lanjut, Pak Nardjo juga menjelaskan bahwa Para Bhiksu yang tergabung dalam Lembaga Sangha Mahayana Indonesia tidak berafiliasi dengan pihak manapun juga. Dan kami memiliki otonomi organisasi sendiri. Karena kami tidak menerima, memakai atau menggunakan uang dan fasilitas negara dalam berbagai kegiatan kami, titik. Jadi jelas bahwa SMI mandiri dan tidak disokong oleh pihak pihak Pengusaha, Konglomerat atau Para Investor Luar Negeri yang sampai saat ini masih banyak berlindung dibalik kelembagaan agama agama yang ada di Indonesia.

Lembaga Sangha Mahayana Indonesia tegas menyatakan bahwa di Kubu Prabowo Sandi, tidak ada Bhiksu Gadungan.

Seharusnya, sebelum menyebut Bhiksu Gadungan, mereka harus menjelaskan apa definisi Bhiksu dan apa definisi Sangha menurut ajaran agama Buddha.

Kalau sudah viral begini, kan jadi kisruh dikalangan umat, tutur pak Nardjo.

Sunardjo menambahkan bahwa pernyataan dan kalimat yang tertulis “bhiksu gadungan”, itu tidak seyogyanya terpublikasi di kalangan umat.

Entah karena tidak tahu atau tidak mengerti, apa makna sebutan bhiksu itu.

Dalam perspektif buddhisme, sebutan bhiksu itu merupakan simbol kebudhaan yang identik dengan sosok yang menjadi panutan umat. Maka, tidak sepantasnya mengeluarkan kata kata atau kalimat sebutan bhiksu gadungan.

Substansinya, orang yang sudah disebut Bhiksu, berarti dia adalah sosok yang mempunyai umat yang menjadikan dirinya panutan, dan dalam tata spiritual keagamaan Buddha, biasanya bhiksu bertindak sebagai pemimpin upacara persembahyangan.

Saya menghimbau dan mengajak kepada seluruh umat Buddha di Indonesia, agar jangan terbawa persepsi yang sesat menyesatkan terkait istilah bhiksu.

Hal momentum yang terjadi dalam perhelatan politik Pilpres memang menjadi satu kondisi situasi yang sangat mudah memunculkan issu dan opini negatif yang memuat tendensi saling menjatuhkan, jelas pak Nardjo.

Maka, Sangha Mahayana Indonesia mengharap agar umat Buddha di seluruh Tanah Air untuk dapat berpartisipasi aktif hadir ke TPS terdekat dan menyalurkan aspirasinya dengan mempergunakan Hak Suara untuk memilih sesuai pilihan masing-masing, jangan memilih Netral dan apalagi Golput (tidak memilih).sumber AI

Related posts

Program Caleg DPR RI Azmi Hakam Guntoro

ahmad

Calon anggota DPRD DKI Dapil 1 Jakarta Pusat nomor urut 3 ini memiliki prinsip kerja adalah ibadah.

ahmad

*Disahkan Kemenkumham, LSP Pers Indonesia Jawaban Keresahan Wartawan Soal UKW*

ahmad

Leave a Comment