Featured Politik

Anis: Negara Harus Beri Ruang Lebih Besar Para Saintifik Atasi Pandemi Covid-19

JAKARTA, Pewartasatu.com– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPN) partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Muhammad Anis Matta mengatakan, virus Corona (Covid-19) terus memberikan kejutan varian-varian baru yang lebih ganas dan mematikan dalam beberapa waktu ke depan.

 

Karena itu, politisi senior ini berharap para saintifik memberikan panduan (guidance) kepada negara dan publik, bagaimana cara tepat menghadapi pandemi Covid-19 ini. “Kita menghadapi ketidaktahuan, mendapatkan kejutan baru Covid-19. Disini perlu ada guidance dari para saintifik, sekaligus berfungsi melawan disinformasi informasi,” kata Anis.

Itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) 2009-2014 ini saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Benarkah Varian Baru Virus Covid-19 Makin Ganas?’ di Gelora Media Centre, Selasa (6/7) petang.

 

Diskusi virtual ini menghadirkan narasumber, Spesialis Mikrobiologi Klinik dan Kedokteran Regenerasi dr Rina Adeline, dr., SpMK., MKes., ABAARM, Pakar Epidemiologi Kesehatan, Kaprodi Magister-Fakulttas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Dr Helda dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr Daeng M Faqih.

Menurut Anis, negara harus memberi ruang yang lebih besar kepada para saintifik untuk mengatasi pandemi Covid-19 saat ini sehingga negara diberikan pandauan dalam mengambil keputusan.

 

“Para saintifik dapat berpartisipasi dengan memberikan guidance kepada publik tentang semua kejutan-kejutan baru yang kita saksikan setiap hari ini. Sebenarnya gelombang Covid-19 masih berapa lama?
Ini dilakukan untuk menjaga ‘public mood’ dan daya tahan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang tidak tahu kapan berakhir.”

 

Rina Adeline mengatakan, varian Delta dari India punya daya infeksi dan transmisi lebih besar.

“Virusnya mampu menginfeksi dan melakukan bentuk mutasi baru. Virus ini bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan, dan bisa diketahui kalau test antara antigen dan PCR dilakukan bersamaan,” kata dia.

Rina berharap pemerintah memperluas program vaksinasi, mempercepat target ‘herd immunity’ tercapai.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menerapkan protokol kesehatan dan menggunakan masker dua lapis agar tidak terpapar varian baru. “Ada slogan dari Banyumas yang bisa dicontoh, lebih baik agak susah nafas dari pada hilang nafas,” kata dia.

Dr Helda mengatakan, belajar dari berbagai kasus pandemi sejak 1854, ahli epidemiologi sudah berulangkali mengingatkan pemerintah maupun publik mengenai pandemi Covid-19.

 

“Kita sudah persiapkan bagaimana pengendalian penyakit ini, sebelum ada varian dari India. Mahasiswa kita, banyak di daerah sudah bersiap-siap untuk mengendalikan apabila akses bandara dan pelabuhan ditutup. Tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena kebijakannya lain,” kata Helda.

 

Ketua Umum PB IDI Dr Daeng M Faqih sependapat dengan pernyataan dr Rina dan Helda. Daeng mengatakan, perlu ada dua strategi yang menjadi skenario terbaik untuk menghadapi loncatan lonjakan kasus Covid-19 saat ini.

 

“Perlu strategi dari hilir dan hulu. Di hilir menambah kapasitas pelayanan, sehingga semua masyarakat yang terinfeksi terlayani. Sedangkan di hulu melakukan pendisiplinan protokol kesehatan dengan sanksi yang tegas seperti di Amerika dan Singapura,” kata Daeng.

 

Jika strategi IDI dijalankan, Daeng yakin lonjakan kasus Covid-19 seperti sekarang bisa dikendalikan. “Jika strategi hilir dan hulu secara simultan dan komprehensif, pengendalian lonjakan seperti sekarang in, Insya Allah bisa berhasil,” demikian Daeng Faqih. (fandy)

Related posts

Jazuli Kehilangan Ulama Totalitas Curahkan Kepedulian Terhadap Perbaikan Umat

akhir Rasyid Tanjung

Tuding Ketua DPR RI Marzuki Pemberian SBY, Max Sebut Herzaky Penjilat Paripurna

akhir Rasyid Tanjung

Perlu Perhatian KLHK Soal Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan

akhir Rasyid Tanjung

Leave a Comment