Politik

Dalam Webinar, Jazuli: Pancasila Harus Jadi Ideologi dan Jaga Keutuhan NKRI

JAKARTA, Pewartasatu.com– Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Dr H Jazuli Juwaini mengatakan, Pancasila harus menjadi ideologi pemersatu bangsa karena hanya dengan demikian keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terjaga.

Hal tersebut disampaikan Jazuli dalam Program Mimbar Demokrasi Kebangsaan Fraksi PKS DPR RI seri kelima dengan ‘Mengokohkan Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu dan Penjaga Keutuhan NKRI’, Jumat (11/6).

Selain Jazuli juga tampil sebagai narasumber pada kegiatan itu Prof Salim Haji Said (Ilmuwan Politik, Guru Besar Universitas Pertahanan), Dr H Ahmad Heryawan (Wakil Ketua Majelis Syuro PKS) dan Pdt Jimmy Sormin (Sekretaris Eksekutif KKC Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia/PGI).

Mimbar demokrasi kebangsaan kali ini mengangkat tema tentang Pancasila. Tema ini diangkat bertepatan dengan momentum Juni sebagai Bulan Pancasila, lebih tepatnya 1 Juni yang ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

“Pancasila menjadi penting karena Pancasila adalah dasar negara Indonesia merdeka, falsafah dasar yang menjadikan Indonesia bersatu. Diterima sebagai kesepakatan bersama oleh semua kelompok dan golongan,” papar Jazuli dalam acara yang dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting itu.

Ditambahkan anggota Komisi I DPR RI ini, dalam penetapan Pancasila sebagai dasar negara dilakukan melalui perdebatan konsepsional dalam rumusan sila-sila di dalamnya.

Perdebatan ini menunjukan tiga hal penting, Pertama, kualitas pemikiran (isi kepala) bangsa kita. Kedua, menunjukkan kualitas peradaban bangsa Indonesia dengan karakter yang unggul. Ketiga, dimana ini yang sangat penting, yaitu menunjukkan kedewasaan dan kebesaran hati tokoh bangsa untuk menjaga persatuan di atas semua kepentingan golongan.

Dengan seluruh latar filosofis lahirnya Pancasila itu, kata wakil rakyat dari Dapil II Provinsi Banten ini, kita harus tunjukkan sikap dan perilaku kebangsaan yang tepat. Pertama Pancasila telah final sebagai dasar negara, falsafah dasar dan ideologi negara.

Kedua, menjadikan Pancasila milik bersama sebagai ideologi terbuka. Ketiga, menjadikan Pancasila ideologi pemersatu. Keempat, menghindari sikap bernegara yang polaritatif.

Kelima, tidak mempertentangan secara dikotomis nilai yang inheren dalam Pancasila. Keenam, mengedepankan sikap toleransi (tasammuh), silaturahim, kerjasama, dan gotong royong dalam membangun bangsa.

Alasan penting di balik program silaturahmi kebangsaan PKS, menurut dia karena kegiatan itu merupakan salah satu bentuk implementasi Pancasila sebagai pemersatu dan penjaga keutuhan NKRI, yakni dengan cara bersilaturahmi untuk membangun kebersamaan.

Selain itu, Fraksi PKS juga melaksanakan kegiatan hari sebagai salah satu Program Unggulan dengan mengundang beberapa tokoh lintas agama untuk membangun kebersamaan. “Bangsa ini terlalu besar untuk dibangun sendiri, oleh karena itu kita memerlukan kebersamaan untuk membangun bangsa ini,” jelas Jazuli.

Ahmad Heryawan yang akrab dipanggil Aher memaparkan bagaimana penafsiran Pancasila sebagai sebuah dasar bernegara yang terbuka dan factual guna membangun kesejahteraan Indonesia.

“Saat era reformasi ini, kita menyadari Pancasila telah mendapatkan banyak penafsiran dari berbagai kalangan. Penafsiran itu menandakan kehadirannya sangat terbuka dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya banyak mempengaruhi berbagai dinamika kebangsaan sejak awal kemerdekaan,” ujar Aher.

Dikatakan, penafsiran Pancasila seharusnya terbuka, tidak menghadirkan tafsir tunggal yang pernah terjadi dibeberapa masa kepemimpinan lalu karena tafsir tunggal akan menegasi penafsiran yang terbuka dan bernilai ilmiah serta mengandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Sedangkan Jimmy Sormin mengatakan, pancasila dalam satu dekade ini telah teredusir atau lebih terarah pada diskursus sila pertama ataupun sila ketiga saja. Sila pertama karena persoalan politik identitas, persoalan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang tidak selesai-selesai.

Dan, sila ketiga tentang persoalan separatisme atau terorisme yang kemudian menjadi isu tentang persatuan Indonesia. “Kita cenderung lupa esensi tiga sila lainnya yaitu sila kedua kemanusiaan, sila keempat kerakyatan atau demokrasi dan sila kelima keadilan sosial,” papar Jimmy

Untuk mengokohkan Pancasila, menurut Jimmy, jangan hanya sekedar menjadi diskursus akademik dan konsumsi elitis semata, tetapi kita juga harus mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud pengejawantahan keseluruhan sila Pancasila.

“Pancasila harus melahirkan perjumpaan diantara kita, mengikat kita dalam perbedaan. Ia juga yang akan memberikan ruang perjumpaan di tengah-tengah situasi sosial yang saat ini tersegregasi,” jelas dia.

llmuwan Politik sekaligus Ahli Sejarah, Salim Said menekankan, jika ingin menafsirkan dan mengamalkan Pancasila harus mempelajari sejarahnya terlebih dahulu. Jika tidak, bisa salah arah.

“Jika ingin menjadi pemimpin, membicarakan mengenai demokrasi hingga menafsirkan Pancasila, harus memperhatikan historisnya. Kesalahan banyak pemimpin Indonesia karena tidak belajar sejarah sehingga mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai historis dan akibatnya mengalami kerancuan,” ucap Salim.

Ditegaskan Salim, pengamalan Pancasila tergantung pada level peradaban bangsa Indonesia. Kemakmuran berkorelasi tinggi dengan peradaban, dan peradaban berkorelasi tinggi dengan kemungkinan terjadinya demokrasi.
Jangan bosan-bosan bicara Pancasila, ini tidak akan selesai, sebab itu akan selesai ketika kita sudah dekat dengan beradab,” demikian Prof Dr Salim Haji Said. (fandy)

Related posts

Contoh Tepat Kebijakan Moneter, Politisi PKS: Alokasi Dana Desa Perlu Ditingkatkan

Jalankan Amanah Dari Rakyat, Nevi Gulirkan Empat Program Unggulan di Dapil

akhir Rasyid Tanjung

HRS Sampai di Tanah Air, Jamiluddin Ritonga: Jokowi Perlu Lakukan Rekonsiliasi Politik

akhir Rasyid Tanjung

Leave a Comment